Seperti ada suara yang menggema dari kejauhan
Tapi gak begitu jelas apa yang terdengar
Hanya berupa bisikan samar-samar
Saat itu aku hanya meyakini kalo ada suara-suara yang menyemangati
Ketika aku lelah melakukan semuanya
Kemenangan tak diraih
Impian yang tak kesampaian
Putus harapan
Kegagalan terus menerus
Dan semangat untuk bangkit tidak ada lagi
Tapi,, berulang kali suara itu terdengar lagi
Bisikan-bisikan kecil
Ntah darimana asal suara itu
Tapi suaranya tak asing bagiku
Itu suaraku!!!
Ayo rhin, bangkit...
Jangan mau kalah
Mereka sedang menertawakan kelelahanmu, kekalahanmu, impianmu, keputusaasaan dan kegagalanmu
Jangan biarkan suara mereka lebih keras darimu
Tetap gapai suara semangatmu
Kejarlah dan dengarkan dengan jelas kibaran semangatmu itu
Jangan hanya mendengar suara samar-samar itu
Dekatilah...
Gapai semuanya..
I'll be better now..
Teringat peristiwa setahun yang lalu tepatnya di tanggal 03 Oktober 2009, ada tragedi menyeramkan di sebuah ruangan luas. Ruangan itu jarang dihuni oleh mahasiswa-mahasiswa yang ada di kampusku. Ruangan itu hanya dibuka ketika ada korban yang ingin diserang oleh ke-3 sesosok personel yang menamakan dirinya "aliansi pembanding". Aku hanya punya satu orang yang bisa menolongku dengan argumen-argumennya yang kusebut sebagai "penolong". Walaupun aku tak percaya sepenuhnya 3 lawan 1 akan berhasil, tapi ku redam pikiran itu jauh2. Aku pasti bisa bip bip bip...hahaha... *pahlawan bertopeng
Persiapan waktu belajar benar-benar minim sekali. Kebanyakan membuang waktu di kampus ngurusi birokrasi yang rumit daripada menghabiskan waktu untuk belajar. *alibi ;)
Alias aku menerapkan kata2 pepatah bersenang2 dahulu baru bersakit2 kemudian hehe...tobalik ya??
Betapa beruntungnyaaku mendapatkan dosen pembanding yang -aku dan teman2- bilang tiga2nya master apalagi master membuat mahasiswa peserta sidangnya nangis akibat tak lulus mungkin.. KACAU pikirku...
ada Mr. Be, Mr. Se dan Mr. As..... whuaaaaaa...hanya bisa pasrah...
Hujan gerimis terus turun mengguyur membasahi permukaan bumi yang seakan2 sudah lama bumi merindukan siraman dari alam semesta...
Sok puitis banget sih hehe...
Saat itu aku dan keluarga hendak pergi ke mesjid, walo hujan gerimis rintik-rintik tapi sayang untuk melewatkan tarawih bersama ke mesjid.
Karena jarak antara rumahku dan mesjid tidak terlalu jauh, maka aku malas memakai alat bantu penglihatanku (read : lensa kacamata).
Lagian aku juga tidak terlalu rabun (menghibur diri : mode ON)
Kupakai sandal ibuku yang sedikit punya tumit jarak 2cm agar "baju kaki" ku gak basah saat perjalanan menuju mesjid.
Sampai di mesjid >>
Ku letakkan sandal -pinjaman- ibuku tadi mengikuti irama susunan sandal orang-orang yang datang mendahului kami.
Tak begitu ku hiraukan susunannya..
Allahu Akbar..Allahu Akbar.. >>
Adzan dikumandangkan hingga selesai...
Dan ku lihat semua bergegas melaksanakan sholat sunnah rawatib
Dilanjutkan sholat Isya berjamaah, ditutup sunnah rawatib dan ceramah singkat kultum pembukaan tarawih..
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintaiMu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…
Tapi Rabbii,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan kemudian tahun berlalu…
Aku berusaha mencintaiMu dengan cinta yang paling utama, tapi…
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untukMu…
Aku makin merasakan gelisahku membadai…
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi…
Hingga aku terhempas dalam jurang
Dan kegelapan…
Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu…
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghibaMu:
Allahu Rahiim, Ilaahi Rabbii,
Perkenankanlah aku mencintaiMu,
Semampuku
Allahu Rahmaan, Ilaahi Rabii
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
Dengan segala kelemahanku
Ilaahi,
Aku tak sanggup mencintaiMu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa hingga Al musthafa
Karena itu izinkan aku mencintaiMu
Melalui keluh kesah pengaduanku padaMu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku
Rabbii,
Aku tak sanggup mencintaiMu seperti Abu bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan Engkau dan RasulMu bagi diri dan keluarga. Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad. Atau Utsman yang menyerahkan 1000 ekor kuda untuk syiarkan dienMu. Izinkan aku mencintaiMu, melalui seratus-dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan, pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan. Pada makanan–makanan sederhana yang terkirim ke handai taulan.
Ilaahi, aku tak sanggup mencintaiMu dengan khusyuknya shalat salah seorang shahabat NabiMu hingga tiada terasa anak panah musuh terhunjam di kakinya. Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cintaMu, dalam shalat yang coba kudirikan terbata-bata, meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Robbii, aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta denganMu. Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rekaat lailku. Dalam satu dua sunnah nafilahMu. Dalam desah napas kepasrahan tidurku.
Yaa, Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintaiMu bagai para al hafidz dan hafidzah, yang menuntaskan kalamMu dalam satu putaran malam. Perkenankanlah aku mencintaiMu, melalui selembar dua lembar tilawah harianku. Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Rahiim
Aku tak sanggup mencintaiMu semisal Sumayyah, yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya DienMu. Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagiMu. Maka perkenankanlah aku mencintaiMu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwahMu. Maka izinkanlah aku mencintaiMu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.
Allahu Kariim, aku tak sanggup mencintaiMu di atas segalanya, bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya, dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya. Maka izinkanlah aku mencintaiMu di dalam segalanya. Izinkan aku mencintaiMu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku, dengan mencintai manusia dan alam semesta.
Allaahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku. Agar cinta itu mengalun dalam jiwa. Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.
copas
Jalan sedikit sambilan olah raga sore, setelah pulang kerja...
Ku stop becak di pintu 3, minta diantar ke tempat tujuan..
Di perjalanan, dia melihat-lihat diriku..anegh pikirku dalam hati..
Kubuka pembicaraan...coba bertanya...
"Kenapa bang??"
Dialogue pun terjadi, begini dialogue nya...
:)
Si Abang : "Kuliah di farmasi ya kak?"
Aku : "Hmm..gak bg..saya kerja di belakang fakultas ini"
Si Abang : "Dulu mahasiswa juga di USU? Jurusan pa kak?"
Aku : "Iya bg alumni USU, teknik sipil bang"
Si Abang : "Hmm...berarti kerja di pembangunan gedung farmasi tu ya?"
Aku : "Ya begitulah bang..."
Si Abang : "Wah, ternyata cewek bisa juga ya" *sambil tersenyum-senyum si abang
Aku : *membalas kembali senyumannya..
Si Abang : "Oh ya kak, boleh nanya sesuatu gak?"
Aku : "Klo bisa, saya jawab bang..."
Si Abang : "Kakak pernah belajar office? Kira-kira dimana ada les office ya kak? Mahal gak kak?"
*sedikit kaget
Aku : "Pernah, di SDM 21 dekat Ramayana Pringgan...Gak kok, per paket Rp ------,00 "
Si Abang : "Hmm...disana ya kak..pengen lah kak, kemaren ada lowongan marketing tapi syaratnya harus pande excel"
>>> masih panjang lagi dialogue nya...tapi saya putus sampe disini
Ada pembelajaran yang dipetik disini...
Ada niat dan motivasi yang tinggi dari Si Abang untuk mengubah peta hidupnya mencari pekerjaan yang lebih baik lagi..
William James dari Harvard University mengatakan, "Penemuan terbesar manusia adalah bahwa perubahan sikap dapat mengubah nasib seseorang". Sebuah penelitian yang dilakukan juga oleh Harvard university menemukan bahwa ketika seseorang mendapatkan pekerjaan, 85 % keberhasilannya di sebabkan oleh sikap mereka, dan hanya 15 % karena kepandaian dan pengetahuan mereka. Ibarat sebuah bangunan maka pondasi bangunan itu adalah sikap anda. Semakin tinggi bangunan tersebut semakin dalam pondasi yang di buat agar dapat berdiri kokoh. Begitu juga dengan manusia, Sikap andalah yang membuat anda sebagai manusia yang dapat menjadi aset terbesar atau bahkan beban terbesar bagi anda.
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu
Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu
Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu
Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati
Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani
Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina
(Rahmat Abdullah)